Minggu, 07 Maret 2010

ASKEP BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)

Pengertian
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostate yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine (urethra)

Etiologi
o Mulai pada umur kira-kira 45 tahun
o Frekuensi bertambah dengan meningkatnya usia diatas umur 80 tahun kira-kira 80% menderita kelainan ini
o Sebagai etiologi sekarang dianggap ketidakseimbangan endokrin. Testosterone dianggap mempengaruhi bagian tepi prostate, sedangkan estrogen (dibuat oleh kelenjar adrenal) mempengaruhi bagian tengah prostate.

Patofisiologi

Perubahan keseimbangan antara hormone testosterone dan estrogen

Testosterone bebas + enzim 5α reduktase

Dihidrolisis → dehidro testosterone (DHT)

Diikat reseptor (dalam sitoplasma sel prostate)

DHT – reseptor → inti sel

Mempengaruhi RNA

Sintesa protein

Proliferasi sel

Pembesaran prostate


Ada tiga cara pengukuran besarnya hipertropi prostate :

1. Rectal Grading, yaitu dengan rectal toucher diperkirakan berapa cm prostate yang menonjol kedalan lumen rectum yang dilakukan sebaiknya pada saat buli-buli kosong.
Gradasi ini adalah :
0 – 1 cm : grade 0
1 – 2 cm : grade 1
2 – 3 cm : grade 2
3 – 4 cm : grade 3
> 4 cm : grade 4
Pada grade 3 – 4 cm batas prostate tidak teraba. Prostate fibrotik, teraba lebih kecil dari normal.

2. Cilinical Grading, dalam hal ini urine menjadi patokan.
Pada pagi hari selesai bangun pasien diintruksikan BAK sampai selesai, kemudian di masukkan kateter ke dalam buli – buli untuk mengukur sisa urine
Sisa urine 0 cc : normal Sisa urine 0 – 50 cc : grade 1
Sisa urine 50 – 150 cc : grade 2 Sisa urine > 150 cc : grade 3
Tidak bisa Kencing : grade 4
3. Intra Urethral Grading, dengan alat perondoskope dengan di ukur / dilihat beberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra.
Grade 1 :
Clinical Grading sejak berbulan-bulan, bertahun-tahun, mengeluh kalau BAK tidak lancar, pancaran lemah, nokturia.
Grade 2 :
Bila miksi teras panas, sakit, disuria
Grade 3 :
Gejala makin berat
Grade 4 :
Buli – buli penuh, disuria, overflow incontinence, bila hal ini dibiarkan dengan adanya infeksi dapat terjadi urosepsis berat. Pasien menggigil. Panas 40 - 41 C, kesadaran menurun.


Tanda dan Gejala

Walaupun hyperplasia prostate selalu terjadi pada orang tua, tetapi tidak selalu disertai gejala – gejala klinik.
Gejala klinik terjadi oleh karena 2 hal, yaitu :
1. Penyempitan urethra
2. Retensi urine yang menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertropi kandung kemih dan cystitis.
Gejala klinik dapat berupa :
o Frekuensi berkemih bertambah
o Berkemih pada malam hari
o Kesulitan dalam hal memulai dan menghentikan berkemih
o Air kemih masih tetap menetes setelah selesai berkemih
o Kadang – kadang tak dapat berkemih sehingga harus dipasang kateter
o Tambahan : air kemih selalu berada dalam kandung kemih, maka mudah sekali terjadi cystitis dan selanjutnya kerusakan ginjal yaitu hydronefrosis, pyelonefritis

Komplikasi :
o Urinary traktus infection
o Retensi urine akut
o Obstruksi dengan dilatasi urethra, hydronefrosis dan gangguan fungsi ginjal

Bila operasi bisa terjadi :
o Impotensi (kerusakan nefron pudendes)
o Hemoragik pasca bedah
o Fistula
o Striktur pasca bedah
o Inkontinensia urine


Pemeriksaan penunjang
o Urinolisis
o Urine kultur
o Pemeriksaan fisik

Penatalaksanaan
Konservatif
Obat-obatan : Antibiotika, jika perlu
Self care :
o Bak dan minum teratur
o Rendam hangat, seksual intercourse

Pembedahan
o Retropubik prostatectomy
o Perineal prostatectomy
o Suprapubik / open prostatectomy
o Trans Urethral Resectio (TUR), yaitu : suatu tindakan untuk menghilangkan obstruksi prostate denga menggunakan cytoscope melalui urethra. Tindakan ini dilakukan pada BPH grade 1.

Kontra indikasi tindakan pembedahan :
Orangtua dengan :
o Dekompensasio cordis
o Infark miokard baru
o Diabetes mellitus
o Malnutrisi berat
o Dalam keadaan koma
o Tekanan darah systole 200 – 260 mmHg

Hal yang diperhatikan pada pasien dengan post operasi TUR Prostat :
o Drainase urine, meliputi : kelancaran, warna, jumlah, clothing.
o Kebutuhan cairan : minum adekuat (+ 3 liter/hari)
o Program “Bladder Training” yaitu latihan kontraksi otot-otot perineal selama 10 menit, dilakukan 4 kali sehari.
o Menentukan jadwal pengosongan kandung kemih : bokong pasien diletakkan di atas stekpan / pispot atau pasien diminta ke toilet selama 30 menit – 2 jam untuk berkemih.
o Diskusikan pemakaian kateter intermitten.
o Monitr tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, rubor, tumor, fungsiolesa)
o Rawat kateter secara steril tiap hari. Pertahankan posisi kateter, jangan sampai tertekuk.
o Jelaskan perubahan pada eliminasi dan pola seksual
o Fungsi normal kandung kemih akan kembali dalam waktu 2 – 3 minggu, namun dapat juga sampai 8 bulan yang perlu diikuti dengan latihan perineal / Kegel Exercise

Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan pada pasien dengan post TUR prostate adalah sebagai berikut :
1. Perubahan pola eliminasi Urin ; sehubungan dengan :
o Mekanisme obstruksi : bekuan darah, edema, traum, prosedur pembedahan.
o Tekanan dan iritasi kateter / balon
o Kehilangan tonus kandung kemih akibat over distersi pada preoperasi atau dekompresi terus menerus
Ditandai dengan :
- Sering kencing, dysuria, inkontinensia, retensi urine
- Blast penuh, suprapubis tidak nyaman
Tujuan :
Jumlah urine normal dan tanpa retensi
Criteria :
o Klien mampu mengosongkan kandung kencing setiap 2 – 4 jam
o Klien mampu melakukan perineal exercise
o Klien BAK 1500 cc / 24 jam

2. Resiko tinggi untuk kekurangan volume cairan : sehubungan dengan :
o Perdarahan pada area pembedahan
o Pembatasan intake preoperasi.
Tujuan :
Kebutuhan cairan klien terpenuhi
Kriteria :
Jumlah cairan yang masuk dan keluar seimbang


3. Resti Infeksi ; sehubungan dengan :
o Prosedur invasive, instrumentasi selama operasi, kateter, seringnya irigasi kandung kemih
o Jaringan traumatic, insisi bedah
o Refluks urine ke dalam kandung kemih
o Terbukanya system drainage urine
Ditandai dengan :
o Post TUR prostate hari ke II
o Masih terpasang kateter denga irigasi
o Drip NaCL 0,9 %
Tujuan : klien terhindar dari resiko infeksi saluran kemih
Criteria :
- Tanda vital dalam keadaan normal
- Urine bersih dan jernih
- Tidak terasa nyeri
4. Nyeri akut : sehubungan dengan :
o Iritasi mukosa kandung kemih
o Spasme otot sehubungan dengan prosedur operasi atau penekanan dari balon (traksi)
Ditandai dengan :
o Dilaporkan adanya nyeri pada pangkal alat kelamin dari perut bagian bawah
o Wajah meringis kesakitan
o Respons autonomic
Tujuan :
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
Criteria :
- Klien dapat mengontrol nyeri dengan menggunakan skala nyeri 1 – 10
- Klien tampak rileks
- Klien dapat beristirahat dengan tenang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar