Rabu, 03 Februari 2010

Langkah Praktis Menghadapi Panik



Linda Manassee menuliskan beberapa langkah praktis mengatasi rasa panik, antara lain sebagai berikut:
1. Mengalihkan perhatian.
Hentikan perhatian Anda dengan mengalihkan berbagai pikiran negatif ketika hal tersebut muncul. Alihkan pada hal-hal yang bermanfaat.
2. Kurangi aktivitas atau pekerjaan yang memungkinkan Anda merasa cemas.
3. Latihlah olah pernafasan dalam, agar ketika panik melanda, Anda dapat dengan mudah mengatasinya.
4. Desensitifikasi sistematis.
Tidak menghindari situasi karena Anda khawatir terserang panik. Belajarlah untuk menghadapinya secara bertahap.
5. Pelemasan ketegangan otot dan pikiran dengan terapi komplementer, seperti meditasi, relaksasi, atau biofeedback (suatu metode relaksasi dengan menggunakan bantuan alat yang dapat memantau fungsi otonomik), mencari fasilitas yang menyediakan self group therapy (terapi kelompok bantuan dini) agar Anda dapat saling berbagi pengalaman untuk mengatasi panik.
6. Menerima diri apa adanya.
7. Membina pertemanan dan komunikasi yang baik dengan keluarga, teman, dan sekitar mengenai hal-hal yang membuat Anda merasa tidak nyaman.
8. Menulis emosi dan perasaan Anda sebagai salah satu cara melepaskan ketegangan.
9. Mencari bantuan ahli, seperti dokter, psikiater, psikolog untuk mendapatkan solusi terhadap ketidaknyamanan yang dialami.



Panik merupakan suatu gangguan kecemasan yang ditandai dengan serangan panik berulang dan bersifat mendadak (tiba-tiba dan tidak terduga) sebagai akibat persepsi irasional yang berlebihan.
Penderita seakan terperangkap pada bahaya yang luar biasa, padahal dalam kenyatannya, bahaya itu tidak ada. Kondisi tersebut menyebabkan ketakutan dan ketidaknyamanan. Penderita akan cenderung menghindari situasi-situasi di mana gejala panik dapat muncul.
Rasa panik dapat muncul sebagai akibat dari :
1. Proses pembelajaran perilaku masa kanak
2. Pengaruh kepribadian perfeksionis
3. Kehidupan yang stres, kehilangan figur yang disayangi (contoh: pasangan, orangtua, dll)
4. Pengalamana masa kecil yang mendapat perlakuan orangtua yang cenderung menuntut, temperamental, mengkritik, terlalu mengatur.
Keadaan-keadaan tersebut kemudian mencetuskan kemarahan dalam bentuk kelemahan fisik, muncul dalam gejala panik.
Gejala panik dapat berbentuk rasa ingin pingsan, takut mati, takut keramaian, berdebar, sesak, ingin buang air kecil atau air besar, pening atau sakit kepala, kebingungan, sulit berkonsentrasi, banyak berkeringat, sulit bicara, sulit beraktifitas, gugup, gemetar, mual dan muntah,nyeri di bagian dada, sulit menelan, mulut terasa kering, lemas, depresi.

www.infosehat.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar